Tampilkan postingan dengan label cerpen dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen dongeng. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 April 2020

Lukisan Maya

Lukisan Maya


Maya adalah seorang anak perempuan yang manis. Ia tinggal di tengah hutan dengan kedua orang tuanya yang miskin. Maya suka sekali melukis. Sayang, kedua orang tuanya tidak mampu untuk membelikannya alat-alat melukis. Walaupun begitu, Maya tidak putus asa.

Maya terbiasa menggambar di mana saja. Kadang di belakang kertas bekas yang dibuang orang di jalan. Kadang ia mencorat-coret tanah di halaman belakang rumahnya dengan sebatang ranting. Ia juga akan gembira jika menemukan sepotong kapur di jalan.

Lukisan Maya sebenarnya bertebaran dimana-mana. Sayangnya, tidak ada penduduk desa yang menyadari bakat Maya. Kecuali para peri, bidadari, dan kurcaci yang sering berjalan-jalan di hutan pada malam hari.

"Uwaa... Maya itu pintar melukis, ya!" seru Peri Angin kagum. Ia menemukan sepotong gambar pemandangan di tanah. Di dekat pohon ceri yang sedang berbuah.

"Betul!" angguk bidadari bergaun merah. "Lihat, gambar bulan dan bintangnya indah sekali, persis aslinya!"

"Kita minta Maya, yuk, untuk melukis dekorasi di pesta akhir tahun nanti!" usul kurcaci bercelana biru. Semua yang mendengar langsung mengangguk setuju. Mereka membayangkan meriahnya pesta mereka nanti.

Setiap akhir tahun, para kurcaci, peri, dan bidadari memang selalu membuat pesta meriah untuk menyambut tahun baru. Di pesta itu, semua berdandan cantik dan mengenakan baju yang bagus. Suasananya sangat meriah. Ada tarian, musik, dan makanan yang lezat. Tetapi, sayangnya, selama ini tempat pesta mereka tidak didekorasi.

"Kalau Maya membuat lukisan untuk dekorasi pesta kita, pasti pesta kita jadi lengkap!" seru peri mawar bersemangat.

"Ide yang bagus!" puji Ratu Peri. "Tapi, apakah Maya bersedia?"

"Maya pasti mau membantu!" ujar Peri Matahari yakin. "Aku selalu mengamati Maya. Ia anak yang baik dan suka menolong orang!"

Ratu Peri kemudian mengutus Peri Mawar, Peri Angin, dan kurcaci bercelana biru untuk mendatangi Maya.

Alangkah kagetnya Maya ketika suatu malam ia mendapat tamu. Tiga makhluk mungil bertengger di sisi kasurnya yang tergeletak di lantai.

"Siapa... kalian?" tanya Maya agak takut.

"Jangan takut!" Peri Mawar tersenyum manis. "Kami datang untuk meminta bantuanmu. Kamu mau menolong kami?"

"Apa yang bisa kubantu?" tanya Maya ramah setelah rasa terkejutnya hilang. "Aku... aku tidak menyangka bisa bertemu peri dan kurcaci. Kukira kalian hanya ada di dalam dongeng bobo."

Peri Angin tersenyum dan meniup rambut Maya. Udara yang tadinya panas, langsung terasa lebih sejuk. Maya tersenyum gembira.

"Kami ini betul-betul ada," jelas kurcaci bercelana biru. "Kalau kamu mau, datanglah ke pesta akhir tahun. Aku akan mengenalkanmu kepada seluruh penghuni hutan yang belum pernah kamu lihat."

"Oh, ya?" Maya melonjak gembira. "Senang sekali, tapi... bagaimana caranya?"

"Pertama, kami meminta bantuanmu untuk mendekorasi pesta akhir tahun nanti. Kamu mau, kan?" pinta Peri Angin memelas. Tentu saja, Maya langsung mengangguk setuju.

Beberapa hari berikutnya, setiap ada waktu luang. Maya pasti melukis di tengah hutan. Di tempat pesta akhir tahun diadakan. Maya melukis di tanah dengan tongkat ajaib milik Ratu Peri. Lukisan Maya berkilauan indah. Maya juga melukis di pohon. Lukisan itu berpendar dalam gelap. Maya juga merangkai daun, ranting, dan bunga di sana-sini sebagai penghias pesta.

Akhirnya, hari yang dinanti-natikan pun tiba. Para penghuni hutan sangat takjub melihat lukisan Maya yang tersebar di sana-sini.

Suasana pesta jadi terasa jauh lebih meriah. Ratu Peri tersenyum gembira. Maya benar-benar anak yang baik.

"Terima kasih, Maya!" seru para penghuni hutan.

Maya mengangguk dan tersenyum senang. Ini adalah saat yang tak bisa dilupakannya. Ia gembira bisa berkenalan dengan para penghuni hutan. Kurcaci, peri, dan bidadari yang semula ia kita hanya ada di negeri dongeng.



"Sebagai tanda terima kasih, terimalah ini!" Ratu Peri memberikan Maya sekantung uang emas. Juga bros emas berbentuk rangkaian bunga, persis seperti yang Maya buat untuk mereka. "Ini upah untuk kebaikanmu yang suka menolong orang," ucap Ratu Peri berseri-seri.

Betapa senangnya Maya. Dengan uang emas dari Ratu Peri, Maya membeli alat-alat lukis. Ia lalu membuka toko lukisan. Banyak sekali orang yang membeli lukisan Maya. Kini, keluarga Maya bisa hidup lebih baik.
.


.
Lukisan Maya oleh Rina M. Suryakusuma
.
.
Temukan artikel menarik lainnya di sini
Ikuti akun instagram penulis
Kunjungi juga channel youtube penulis

Kamis, 09 April 2020

Pemanah yang Sombong

Pemanah yang Sombong

Arya dan Seta, berguru memanah kepada Resi Bhirawa, seorang pemanah yang ulung.

Arya dan Seta sama-sama pemanah berbakat. Sulit menentukan, siapa yang lebih pandai. Keduanya juga rajin berlatih dan selalu patuh kepada Resi. Hanya watak mereka yang sedikit berbeda. Arya berwatak keras, angkuh, dan sangat ingin menjadi pemanah terbaik. Sebaliknya Seta berwatak lembut, rendah hati, dan selalu menyembunyikan kemampuannya.

Setelah merasa cukup memberikan ilmu, Resi Bhirawa berpesan kepada kedua muridnya.

"Muridku, sudah saatnya kalian meninggalkan padepokan ini. Kejarlah cita-cita kalian di luar sana. Pesanku, jadilah orang baik dan selalu membela kebenaran."

Arya dan Seta memberi hormat, dan dengan berat hati meninggalkan gurunya.

Arya melanjutkan perjalanan menuju istana kerajaan Kahuripan. Berkat kepandaiannya memanah, ia diterima menjadi prajurit. Tidak lama kemudian ia diangkat sebagai prajurit kepala.

Seta memilih untuk hidup tentram di desa. Ia bertani dan sesekali berburu. Untuk menjaga kemampuannya, ia rajin berlatih memanah.

Suatu ketika, Prabu Awangga, Raja Kahuripan, mengadakan sayembara memanah. Pemenangnya akan menjadi menantu raja. Menjadi suami Putri Dewi Sekar Sari. Sayembara tersebar sampai ke pelosok desa dan negara-negara tetangga.

Sebagai pemanah, Arya sangat yakin akan menjadi pemenang.



"Tidak akan ada yang sanggup mengalahkan aku!" kata Arya dengan sombong kepada teman-temannya.

Hari perlombaan akhirnya tiba juga. Ribuan rakyat berkumpul di lapangan, menyaksikan jago-jago pemanah bertarung. Para pangeran, panglima, dan orang biasa mempertunjukkan kehebatan memanah. Penonton berdecak kagum dan bersorak-sorak memberi semangat.

Pada akhirnya, memang Aryal ah yang menjadi pemenang. Tak ada yang bisa mengalahkannya. Anak panahnya selalu tepat mengenai sasaran. Penonton bersorak-sorai menyambut kemenangannya.

Perdana Menteri bersiap hendak mengumumkan pemenang sayembara. Namun tiba-tiba ada pemuda yang bersenjata panah, maju ke tengah gelanggang.

"Tunggu!" teriaknya.

Arya terkejut. Pemuda itu adalah Seta, saudara seperguruannya.

"Ada apa anak muda? Kenapa kau menyela pengumumanku?" tanya Perdana Menteri agak marah.

Seta menghaturkan sembah. "Ampun Perdana Menteri. Nama hamba Seta. Hamba ingin bertanding dengan sang juara. Apakah masih diperkenankan?" tanya Seta tenang.

Perdana Menteri berunding dengan petinggi yang lain. Akhirnya, Seta diijinkan bertanding dengan Arya.

Kedua pemuda itu dengan gagah beriring menuju lapangan. Arya berjalan dengan sombong, sementara Seta tampak tenang dan rendah hati.

Di babak pertama, mereka membidik sasaran di papan yang bergaris lingkar. Pada babak ini nilai keduanya sama-sama imbang. Di babak kedua, mereka membidik sasaran burung yang terbang. Lagi-lagi keduanya tidak ada yang kalah.

Pada babak terakhir, keduanya disuruh menentukan jenis pertandingan.



Arya memilih sasaran buah apel yang diletakkan di atas kepala peserta secara bergantian. Penonton berdebar-debar. Namun kembali keduanya berhasil memanah secara tepat.

"Sekarang giliranmu Seta! Tentukan sasaran yang harus dipanah!" tegas Arya.

Seta kemudian meminta dua batang bambu yang sama besar dan panjangnya. Kedua batang bambu digantung di dahan pohon, di atas kolam yang jernih. Separuh batang bambu di atas air, separuhnya di dalam air. Di dalam air, terlihat batang bambu menjadi bengkok.

"Bidiklah bambu di dalam air. Anak panah yang menancap pada bambu, adalah pemenangnya," jelas Seta.

Kedua pemanah bersiap-siap menunggu aba-aba. Setelah aba-aba dibunyikan, secepat kilat mereka membidik sasaran. Anak panah Arya menuju bayangan bambu yang bengkok. Sementara Seta membidik daerah yang sejajar dengan bambu di permukaan air.

Ketika bambu diangkat, ternyata anak panah Seta menancap pada sasaran. Sedangkan anak panah Arya meleset. Para penonton berseru terkejut.


Arya terlihat lemas dan kecewa. Namun, sebagai ksatria ia mengakui kemenangan Seta dan memberikan selamat.


"Selamat atas kemenanganmu. Bagaimana kau dapat membidik dengan tepat?" tanya Arya.

"Dengan ilmu dan kebijaksanaan," bisik Seta. "Kadang pandangan mata bisa menipu. Karena itu jangan selalu melihat sesuatu dari luarnya."

Arya menganggukkan kepala. Kini ia berjanji tidak sombong dan membanggakan diri.

Seta akhirnya menjadi menantu Raja Awangga. Ia tetap hidup rendah hati dan bahagia dengan istrinya. Arya diangkat menjadi panglima kerajaan dan menikah dengan adik Putri Sekar Sari, yaitu Putri Intan Sari. Kedua pemanah itu menjadi pelindung kerajaan yang membanggakan seluruh negeri Kahuripan. ( Rahmat Siswoko )

Selasa, 07 April 2020

Teka-Teki Tiga Patung


Teka-Teki Tiga Patung

Dahulu kala, hiduplah seorang raja di India. Suatu hari, datanglah seorang utusan dari negara tetangga. Utusan itu membawa sebuah kotak ukir yang terbuat dari perak.

"Tuanku Baginda, raja kami mengirim hadiah ini kepada Baginda, sebagai tansa persaudaraan," kata utusan itu dengan hormat.

Raja dari India ini menerima kotak tersebut dan membukanya. Di dalam kotak itu terdapat tiga patung yang berukir indah. Bentuknya sama persis.

"Bagus sekali patung-patung ini!" kata Raja kagum.

"Tuanku Baginda, menurut raja kami, meskipun patung ini tampak serupa, mereka memiliki perbedaan masing-masing. Raja kami meminta Tuanku untuk memilih salah satu dari ketiga patung itu. Dua patung lainnya tolong dikembalikan kepada hamba," kata utusan tersebut.

Semua orang yang berada di ruangan itu merasa heran dan ingin tahu. Raja mengamati ketiga patung tersebut satu-persatu. Sayangnya, ia sama sekali tidak menemukan perbedaan. Ukiran, bentuk, mata, hidung, telinga, kaki, dan tangan ketiga patung itu, semuanya sama. Tinggi dan beratnya pun sama.

"Pasti ada perbedaan yang tersembunyi yang tidak bisa kutemukan dalam waktu singkat," pikir Raja penasaran. Raja lalu berkata pada utusan itu, "Aku perlu waktu untuk memutuskan. Silahkan engkau beristirahat di pondok tamu. Aku akan memanggilmu besok."

Ketika utusan itu telah pergi, Raja bertanya mepada para menterinya, "Apakah kalian bisa melihat perbedaan di antara ketiga patung ini?"

Semua menteri mengamati ketiga patung tersebut dengan cermat. Namun, tak seorang pun dari mereka bisa menemukan perbedaannya. Raja sangat kecewa dan memandang keluar istana. Pada saat itulah, ia melihat puteranya, Pangeran Rajiv, yang terkenal cerdas. Raja segera memanggil puteranya tersebut.

"Rajiv, anakku, seorang teman dari kerajaan tetangga mengirimi Ayah tiga patung. Ayah harus memilih salah satu dan mengembalikan dua patung lainnya. Katanya, meski ketiga patung itu tampak mirip, mereka sebetulnya memiliki perbedaan. Carilah perbedaan tersebut, anakku!" kata Raja.

Pqngeran Rajiv segera membawa ketiga patung tersebut ke kamarnya. Ia mengamati dengan cermat dan melakukan beberapa percobaan untuk mencari perbedaannya. Namun, tak ada hasilnya. Fajar hampir menyingsing. Pangeran Rajiv hampir putus asa. Tiba-tiba, ia mendapat akal.

Pangeran Rajiv segera mengambil sebuah baskom besar berisi air. Ketiga patung itu, ia masukkan ke dalamnya satu-persatu. Pangeran tersenyum melihat gelembung yang keluar dari patung-patung itu. Pertanyaan telah terjawab.

Pagi harinya, semua petinggi kerajaan berkumpul di balairung istana. Mereka tak sabar menunggu jawaban dari sang pangeran.

"Anakku, apakah kau bisa menemukan perbedaan tersebut?" tanya Raja dengan tak sabar.

"Ya, Ayah, masing-masing patung ini membawa pesan," kata Pangeran Rajiv. Semua orang memandangnya takjub. "Ada orang yang mendengarkan dengan satu telinga, dan membiarkannya keluar lewat telinga lain. Lihatlah patung ini."

Pangeran Rajiv mengambil salah satu patung. Ia memasukkan sehelai kawat halus ke lubang telinga patung itu. Ujung kawat keluar dari lubang telinga yang lain.

"Si pemberi patung berharap, Ayah tidak memiliki teman yang sifatnya seperti patung ini."

Pangeran Rajiv lalu mengambil patung kedua dan memasukkan ujung kawat halus tadi ke lubang telinga patung. Ujung kawat keluar dari mulut patung kedua.

"Ayah, patung ini menggambarkan orang yang suka mendengarkan sesuatu, lalu menceritakannya kepada orang lain. Si pemberi patung ingin agar Ayah tidak memiliki teman seperti patung ini, karena ia tidak bisa dipercaya."

Semua orang yang hadir terdiam mendengarkan penjelasan itu. Kemudian Pangeran Rajiv mengambil patung ke tiga. Ia memasukkan ujung kawat halus tadi melalui lubang telinga patung, namun ujung kawat tidak bisa keluar dari lubang manapun.

Raja segera tahu, patung mana yang harus dipilihnya. Ia pun memanggil utusan dari negara tetangga.

"Aku telah memilih salah satu dari ketiga patung pemberian rajamu. Dua patung lainnya boleh kau bawa pulang. Sampaikan hormat dan terima kasihku kepada rajamu. Pemberian ini sangat berharga."

Utusan itu pun pulang ke negerinya.

Raja lalu menyerahkan patung yang dipilihnya itu kepada Pangeran Rajiv. "Anakku, Ayah sangat bangga pada kerja keras dan kecerdikanmu," pujinya.

Pangeran berlutut dan menerima patung tersebut dengan hormat. Semua orang yang berada si ruangan itu bertepuk tangan kagum pada kecerdikan sang pangeran.
( Cerita rakyat India, The Three Statues, diceritakan kembali oleh Laurensia. )

Minggu, 05 April 2020

Kecebong Mancari Ibunya


Kecebong Mencari Ibunya

Ada sekelompok kecebong sedang bermain di sungai kecil. Saat itu, datanglah seekor itik membawa anak-anaknya berenang di sungai. Melihat anak-anak itik bersama dengan Ibunya, kecebong itu teringat kepada Ibu mereka sendiri.

"Di mana, ya, Ibu kita?" para kecebong saling bertanya. Tapi, tak ada yang bisa memberikan jawaban. Mereka mendekati Ibu Itik.

"Bu Itik, Ibu kami dimana, ya? Tolong beritahu kami, bagaimana bentuk Ibu kami!" Tanya para kecebong pada Ibu Itik.

"Ibu kalian memiliki sepasang mata besar di kepala, mulutnya juga besar dan lebar," jawab Ibu Itik. "Pergilah kalian mencarinya."

"Terima kasih, Ibu Itik," kata para kecebong gembira.

Waktu itu, lewatlah seekor ikan besar di dekat mereka. Para kecebong melihat sepasang mata besar ikan itu. Mulutnya juga besar dan lebar.

"Ibu! Ibu!" teriak para kecebong kecil pada ikan besar.

"Saya bukan Ibu kalian," kata ikan besar sambil tersenyum. "Saya adalah Ibu dari ikan-ikan kecil. Ibu kalian memiliki empat kaki."

"Terima kasih, Ibu Ikan," kata kecebong sambil terus berenang.

Seekor kura-kura tampak sedang berenang ke arah mereka. Kecebong melihat, kura-kura memiliki empat kaki.

"Ibu! Ibu!" panggil kecebong pada kura-kura.

"Saya bukan Ibu kalian. Saya seekor kura-kura," kata kura-kura. "Ibu kalian memiliki kulit perut berwarna putih."

Kecebong melihat angsa putih yang sedang berenang di tempat itu. Perutnya berwarna putih. Mereka berpikir, angsa putih itu adalah Ibu mereka.

"Ibu! Ibu!" panggil kecebong pada angsa putih.

"Saya adalah Ibu dari anak-anak angsa. Ibu kalian mengenakan baju berwarna hijau. Kalau bernyanyi, suaranya kuak-kuak!" kata angsa putih.

Kecebong berenang lagi sampai ke tepi danau. Di sana, mereka melihat seekor katak di atas sehelai daun sedang bernyanyi kuak-kuak. Mereka segera berenang ke sana dan berkata,

"Apakah Anda melihat Ibu kami? Dia mempunyai sepasang mata besar, mulutnya juga lebar. Dia memiliki empat buah kaki. Perutnya berwarna putih. Dia memakai baju warna hijau. Dan kalau bernyanyi, suaranya kuak-kuak."

Mendengar pertanyaan itu, Katak tertawa terbahak-bahak.

"Anak-anak, Saya adalah Ibu kalian!" kata Katak.

Para kecebong merasa heran.
"Tapi, kenapa bentuk kami tidak sama seperti Ibu?"

Sambil tersenyum, Katak berkata, "Kalian masih kecil. Beberapa hari lagi, dari tubuh kalian akan muncul empat kaki. Lalu, ekor kalian akan mengecil dengan sendirinya. Kalian juga akan memakai baju warna hijau seperti Ibu. Dan bisa meloncat ke sana ke mari untuk menangkap serangga,"

Mendengar hal itu, para kecebong bersorak gembira. "Kita sudah menemukan Ibu kita!!!"
( Diceritakan kembali oleh Djony )
.
.
.
Temukan artikel menarik lainnya di sini
Ikuti akun instagram penulis
Kunjungi juga channel youtube penulis

Kamis, 02 April 2020

Mata Kail Keberuntungan


"Uuuhhh..., sebel! Kenapa sih, nggak ada satu pun ikan yang terjerat kailku?" gumam Satria kesal. Dengan kasar, ditariknya alat pancing itu dari dalam kolam.

Hari ini Satria ikut Ayah memancing di kolam pemancingan Tirta Mas. Baru kali ini dia ikut Ayah mancing.

Biasanya, di Hari Ahad begini, dia lebih suka bermain sepeda bersama teman-temannya. Namun sayang, hari itu teman-temannya sudah punya kesibukan masing-masing.

Adi akan membantu Ayahnya mengecat rumah. Joshua ikut orang tuanya berkunjung ke rumah neneknya yang sedang sakit. Sementara Budi yang sedang tidak enak badan, katanya. Tadinya sih, Budi mau saja ikut bersepeda dengan Satria. Namun Ibu Budi melarang keras.


Satria jadi kesal. Tadi dia sudah ingin bersepeda sendiri. Tetapi, apa enaknya bersepeda sendiri. Akhirnya, dia lalu menawarkan diri ikut Ayahnya memancing. Jadilah dia ada di sini sekarang.

"Uh... lagi-lagi sial!" gerutu Satria sambil menghentakkan kaki ke tanah.

Beberapa pemancing lain menoleh ke arahnya. Wajah mereka nampaknya kesal mendengar gerutu Satria.

"Sssttt, kalau lagi mancing itu, tidak boleh ribut," bisik Ayah di sampignya. "Kita pindah saja, yuk!" Ayah lalu mengajak pindah ke tempat yang lebih sepi. Ayah merasa tidak enak kepada pemancing yang lain.

"Ini, Ayah beri mata kail keberuntungan Ayah," kata Ayah sambil menyodorkan sebuah mata kail. Mata kail itu nampaknya sudah cukup tua, sudah karatan, dan penuh goresan.

"Coba kamu pakai. Kalau pakai mata kail ini, Ayah selalu dapat ikan banyak," bujuk Ayah.

Dengan senang hati, Satria memasang mata kail itu di ujung kailnya. Kemudian, dilemparkannya ke air. Huuup...

Satria lalu duduk dengan sabar menanti keajaiban mata kail tersebut. Angin semilir membuat matanya terasa berat.

Hampir saja kepalanya terkulai lemas ketika tiba-tiba dirasakannya suatu hentakan dari kail yang dipegangnya

"Haa! Ayah..... bantu, dong! Ikannya besar nih, Yah," soraknya gembira.


Akhirnya, dengan bantuan Ayah, Satria berhasil menangkap ikan yang lumayan besar. Dia tersenyum bangga. Dilepaskannya mulut ikan itu dari ujung mata kailnya. Ditaruhnya, ikan itu di ember yang sudah disiapkan sebelumnya.

Ia kemudian kembali memasang umpan di mata kail keberuntungannya itu. Dengan sekali sentak, dia melemparkan alat pancingnya ke dalam kolam. Kali ini, aku tidak boleh tertidur lagi, tekadnya.

Beberapa kali, Satria berhasil mendapatkan ikan kembali. Lumayan juga, pikirnya senang.

"Sudah siang, kita pulang, yuk!" Ajak Ayah. "Ibu pasti sudah menunggu dengan bumbu bakarnya yang sedap."

Satria senang membayangkan sebentar lagi dia akan menyantap ikan bakar hasil pancingannya sendiri.

"Ayah, lihat! Aku berhasil dapat 7 ekor. Mungkin ini karena aku memakai mata kail keberuntungan Ayah."

"Sebenarnya, yang hebat itu bukan mata kailnya, tapi kamu...." kata Ayah sambil tersenyum.

"Loh, kok bisa?" tanya Satria heran.

"Kunci keberhasilan memancing itu adalah kesabaran. Tadi, waktu pertama, kamu tidak sabar, bahkan sampai marah-marah. Ya... ikannya jadi lari semua, tidak mau mendekat. Tapi tadi, ketika kamu sudah lebih tenang, ikan pun mendekat dan memakan umpanmu."

"Oh, begitu ya, rahasianya. Kapan-kapan, aku ikut lagi ya, Yah! Aku janji, akan bersikap lebih sabar lagi," janji Satria.

Ia dan Ayahnya lalu tos kepalan tangan di udara sambil tertawa lepas.(Firmanawaty Sutan)

Bangsawan dan Tukang Kebunnya

BANGSAWAN DAN TUKANG KEBUNNYA

Tuan Brandon adalah bangsawan yang sangat kaya. Dia mempunyai seorang tukang kebun yang rajin, bernama Jack. Tukang kebun ini bertugas mengurus tanaman di kebunnya yang megah. Ia tinggal tak jauh dari rumah tuannya.



Tuan Brandon sangat sombong. Ia sama sekali tidak menghargai Jack, meski Jack telah setia mengabdi bertahun-tahun padanya.

Selama ini, Ia hanya menganggap Jack sebagai pembantu miskin yang diupahnya setiap bulan.

Walau dipandang sebelah mata, Jack dan keluarganya tetap bahagia. Ia dan keluarganya bersyukur bisa bekerja di rumah besar itu.

Suatu malam, Tuan Brandon dan keluarganya mengadakan pesta. Jack dan istrinya menyiapkan banyak rangkaian bunga yang indah. Para tamu terpesona dengan rangkaian bunga itu. Mereka ingin bertemu dengan Jack, si tukang kebun. Tetapi Tuan Brandon berkata dengan kasar,

"Ah, tidak perlu. Jack hanyalah tukang kebun yang tua dan kotor. Kalau kalian ingin bertemu dengannya, itu sama saja dengan mengotori diri kalian yang sempurna sebagai seorang bangsawan."

Akhirnya, tak seorang pun yang menanyakan Jack lagi.

Jack sangat sedih mendengarnya. Dia juga tak pernah berharap bertemu para tamu bangsawan. Dia hanya merasa tak suka disebut orang yang kotor.

Begitulah setiap saat. Tuan Brandon, si bangsawan kaya itu, selalu merendahkan tukang kebunnya. Walaupun begitu, kehadiran Jack sangat diharapkannya untuk mengurus halaman rumahnya yang sangat luas itu.

Malam itu langit sangat gelap dan dingin. Angin bertiup kencang. Tuan Brandon merasa tubuhnya tak enak dan kedinginan. Maka dia menyalakan perapian san duduk di sana untuk menghangatkan badan.

Kini tubuhnya terasa panas dan berkeringat. Tuan Brandon membuka salah satu jendela besar di ruangan itu. Angin mengalir masuk. Tuan Brandon terkantuk-kantuk di kursinya yang empuk.

Karena angin bertiup cukup kencang, maka lidah-lidah api di perapian mulai menari-nari. Lidah api itu meliuk-liuk ke kanan dan kiri. Mencoba menyambar apa saja yang di sekitarnya.

Benar saja, lidah api menyambar sebuah buku. Buku itu mulai terbakar. Apinya juga menyambar barang-barang lain di dekatnya. Bahkan lampu minyak di sebelahnya ikut terbakar. Api mulai membesar. Ruangan itu kini dipenuhi asap dan nyala api.

Tuan Brandon terbatuk-batuk dan bangun. Dia tidak bisa melihat apa-apa. Matanya lerih terkena asap. Nafasnya sesak. Dia berteriak-teriak minta tolong.



Sebuah tangan keriput terulur menariknya. Sosok itu membantunya keluar dari ruangan itu dan membaringkannya di rerumputan halaman rumah. Dengan sigap, sosok itu berlari masuk kembali dengan membawa ember berisi air.

Tuan Brandon menangis melihat api membakar rumahnya. Angin yang bertiup kencang semakin membantu api menghabiskan seluruh bangunan rumah. Karena terlalu kaget, Tuan Brandon pun pingsan. Keesokan paginya, Tuan Brandon terbangun. Dilihatnya, rumahnya yang besar kini hanya tinggal puing-puing saja. Dia sangat sedih. Hartanya habis.

Tiba-tiba, sekumpulan orang mendatanginya. Salah satu dari mereka berkata kepadanya, "Tuan, mari ikut ke pemakaman. Tuan harus mengantarkan orang yang sangat berjasa bagi Tuan, menuju tempat peristirahatan terakhirnya."

Tuan Brandon tertegun. "Siapa orang yang sangat berjasa kepadaku itu?"

"Dia Jack, si tukang kebun. Dia meninggal karena berusaha menyelamatkan Tuan dan rumah besar Tuan," jelas orang yang lain.

Tuan Brandon menundukkan kepalanya. Ia menangis. Ia tak menyangka, Jack yang selama ini tak dihargainya, malah menyelamatkan nyawanya. Tapi, apalah artinya penyesalan yang datang terlambat itu...(Priyanti.)
.
.
.
.
.
Temukan artikel menarik lainnya di sini
Ikuti akun instagram penulis
Kunjungi juga channel youtube penulis

Minggu, 10 Maret 2019

Rahasia Tiga Kata



Madam Ivora adalah pemilik took roti Ivora yang sangat terkenal di San Fransisco. Dia memiliki tiga anak angkat. Roma si sulung, memiliki watak egois dan serakah. Verto, cerdik dan rendah hati. Serta si bungsu Agusto yang lugu dan penurut.

Suatu malam, keluarga Madam Ivora mendapat masalah. Toko roti mereka hangus terbakar. Mendengar berita itu, Madam Ivora mendapat serangan jantung dan akhirnya meninggal dunia.

Madam Ivora rupanya sudah membuat surat wasiat sejak jauh hari. Ia mewariskan hartanya untuk ketiga anak angkatnya. Namun, mereka harus mencari sendiri tempat penyimpanan harta itu, sesuai petunjuk yang diberikan oleh Madam Ivora.

Terdiri dari tiga kata yang sering ibu ucapkan ada kalian.
Kata pertama merupakan petunjuk tempat penyimpanan peti.
Kata kedua memiliki bentuk yang sama dengan peti.
Kata ketiga memiliki bentuk yang sama dengan benda pembuka kunci peti.

Ketiga anak itu bekerja sama memecahkan petunjuk tersebut.

“Aku ingat kata-kata yang sering ibu ucapkan pada kita,” kata Roma. “Kau sangat pintar. Harus rajin belajar, atau, ibu sayang kalian. Yang mana kira-kira?”

“Sangat membingungkan,” kata si bungsu Agusto.

“Coba lihat petunjuk ketiga. Kata kedua memiliki bentuk yang sama dengan peti,” ujar Verto tiba-tiba. “Apakah kalian masih ingat? Dulu Ayah pernah memberikan sebuah peti berbentuk hati pada Ibu.”

“Lalu apa hubungannya dengan petunjuk itu?” cela Roma sinis.

“Bentuk hati melambangkan cinta. Cinta itu love. Ibu sering mengucapkan aku sayang kamu, pada kita. Jadi ketiga kata itu pasti I Love U,” Verto menyimpulkan.

“Waah, kakak benar-benar cerdas,” puji Agusto.

Mereka bertiga lalu mencari peti berbentuk hati itu. Roma kesal setelah satu jam lelah mencari tanpa hasil. Verto membaca kembali petunjuk tadi.

“Kata pertama merupakan petunjuk penyimpanan peti. Berarti itu kata I,” guman Verto.

“Kasihan Ibu,” tiba-tiba Agusto teringat almarhumah ibunya, “Jika toko roti Ivora tidak terbakar, pasti serangan jantung ibu tidak kambuh.”

“Ya…, benar sekali!” Verto seperti menemukan ide.
“Kenapa, Kak?” Agusto heran.
“Kau benar sekali Agusto. I pasti singkatan dari kata IVORA. Mungkin Ibu menyimpan peti itu di toko roti kita!”
“Waah…, betul! Kalau begitu, ayo kita cari kesana!” Roma bersemangat.

Toko roti Ivora terlihat berantakan. Puing-puing bekas kebakaran masih berserakan. Mereka bersama-sama mencari peti itu, tak lama kemudian…..

“Hei, lihat! Aku menemukannya,” ujar Roma riang. Dia memegang peti sebesar buah kelapa.
“Horeee…” sambut Verto dan Agusto tak kalah riang.
Malamnya, mereka bertiga berkumpul di ruang keluarga.
“Bagaimana cara membuka peti ini?” tanya Agusto.
“Kita menyerah saja. Mungkin Ibu tidak berniat memberikan warisannya pada kita.” Roma mulai putus asa.

“Jangan menyerah. Kita harus bersabar.” Agusto memberi semangat.
“Lihatlah..!” seru Verto kemudian. “Lubang kunci ini berbentuk U. Sama dengan petunjuk keempat.
“Maksudmu…?” tanya Agusto lugu.
“Maksudnya, kita harus menemukan benda yang bentuknya sama dengan kunci ini.”

Maka mereka segera mencari benda-benda yang berbentuk U. Roma mencoba membuka dengan kunci berbentuk U, dari buatan ahli kunci. Verto mencoba membuka dengan kawat besi. Namun semuanya gagal. Kini giliran Agusto. Ia mencoba membuka dengan tusuk konde emas kesayangan ibunya. Tusuk konde itu dulunya adalah hadiah ulang tahun dari Agusto. Ternyata, kali ini Agusto berhasil.

Akan tetapi, sebelum peti itu terbuka seluruhnya, Roma buru-buru merebut peti itu.

“Hei, kalian harus ingat. Kemarin aku yang berhasil menemukan peti ini. Kalau tidak ada Aku, pasti peti ini belum ditemukan!” ujarnya sombong. “Jadi, Aku harus mendapat setengah dari harta ini. Setengahnya, harus kalian bagi dua.” Katanya licik.

Akan tetapi, betapa kecewanya Roma ketika melihat isi peti itu. Ternyata isinya hanya kertas-kertas resep masakan dan sebuah pulpen emas.

“Hanya ini warisan untuk kita..? Kalau begitu, pulpen emas ini untukku. Dan resep-resep tak berharga ini untuk kalian!” kata Roma, lalu pergi meninggalkan kedua adiknya.

Setahun kemudian.

Toko roti Verto terlihat ramai oleh pembeli. Rotinya tak kalah lezat dengan roti buatan Madam Ivora. Tentu saja, sebab Verto dan Agusto membuat roti sesuai dengan resep warisan ibunya. Ya, mereka berdua melanjutkan usaha milik ibunya, membuka toko roti. Dan kini, mereka menjadi kaya raya.

Sedangkan Roma, ia menghabiskan uang hasil menjual pulpen emas. Karena kalah judi, kini Roma tak punya apa-apa lagi. Akhirnya dia menyesal karena serakah dan menyepelekan warisan ibunya.


Asyia Destriana
Diketik ulang oleh Muhammad Syukur Raharjo
Cerita Keluarga Bobo
Cerpen Rahasia Tiga Kata


Kunjungi juga channel youtube penulis
Jangan lupa untuk like, comment, share, dan subscribe
Karena itu semua gratis

TERIMA KASIH

Minggu, 03 Maret 2019

Lili, Liliput, dan Serbuk Kantuk

Lili, Liliput, dan Serbuk Kantuk


“Uh, malas sekali bikin PR matematika! Bikin pusing” gerutu Lili sambil melempar pensilnya ke atas meja. Ia melirik ke luar jendela. Sore-sore begini, lebih baik main-main dulu di taman, pikirnya. Lili pun segera beranjak dari meja belajarnya.

Di taman, Lili sibuk main sendiri. Teman-teman yang rumahnya berdekatan sedang mengerjakan PR. Bu Tuti, guru matematika mereka, memang memberikan banyak soal latihan. Itu karena ulangan umum sudah sangat dekat.

Tiba-tiba, terdengar suara pekikan dari sudut taman. Lili mencari sumber suara itu. Ia merangkak di antara semak-semak. Di bawah dedaunan, tampak makhluk yang sangat kecil. Ia hanya setinggi jari kelingking Lili.

“Liliput!” guman Lili terkejut. Liliput itu sedang bertengkar dengan seekor Semut Merah.

“Itu serbuk kantuk milikku! Kembalikan!” kata Liliput sambil menunjuk butiran berwarna putih bening yang dibawa Semut Merah. Namun Semut Merah malah siap menggigit Liliput!

CLEP!!!

Lili segera mengangkat si Liliput. Ia pun selamat dari gigitan Semut Merah. Manusia saja bisa gatal-gatal kalau digigit Semut Merah. Apalagi Liliput yang sekecil itu.

Lili dan Liliput berkenalan .

“Terima kasih sudah menolongku. Sebagai tanda terima kasih, aku akan melakukan apa pun permintaanmu, Lili.” Kata Liliput.

“Sungguh?  Kalau begitu, Aku minta kau mengerjakan PR matematikaku!” jawab Lili girang. “Waaah, kalau soal PR bukankah kau yang harus mengerjakannya sendiri?” tanya Liliput.

“Tapi, tadi kau bilang, akan mengabulkan semua permintaanku!” Lili cemberut.

“Baik, baik,” Liliput menyerah, “Tapi ada syaratnya, Aku bisa mengabulkan permintaanku saat kau sedang tertidur! Makanlah serbuk kantuk ini, maka kau akan segera terlelap.” Liliput memberikan beberapa serbuk kantuk pada Lili, kemudian menghilang di balik semak-semak.

Sesampainya kembali di rumah, Lili segera mencoba serbuk kantuknya. Ia mengucapkan permohonan, lalu memakan serbuk kantuknya. Rasanya manis seperti gula pasir. Tak lama kemudian, Lili tertidur. Maka dari balik gorden kamar, Si Liliput muncul membawa kawan-kawannya. Mereka naik ke atas meja belajar Lili dan mulai bekerja….

Keesokan harinya, Lili sangat puas melihat PRnya telah diselesaikan. Apalagi, ternyata jawabannya benar semua! Lili mendapat pujian dari Bu Tuti dan teman-teman sekelasnya. Lili tersenyum penuh rahasia.

Begitulah… Akhirnya, setiap kali ada PR matematika, Lili selalu menelan serbuk kantuk. Dan di saat ia tertidur, Liliput dan teman-temannya mengerjakan PR matematikanya.

Tak terasa, lama-kelamaan serbuk kantuk dari Liliput habis.

“Aduh… gimana nih! Aku enggak bisa minta tolong Liliput lagi, nih!” keluh Lili.

Akhirnya, Lili berusaha mengerjakan PR nya sendiri. Namun, karena selama ini ia tidak pernah mengerjakan PR sendiri, Lili merasa sangat kesulitan.

“Ah, barangkali kalau aku tidur, para liliput itu akan datang,” pikir Lili.

Lili akhirnya tidur sampai pagi. Sayangnya.. tidak ada liliput yang datang dan mengerjakan PR nya.

Di sekolah, Bu Tuti memarahi Lili yang lupa mengerjakan PR.

“Sekarang kamu kerjakan soal-soal PR itu di papan tulis!” seru Bu Tuti.

Lutut Lili bergetar. Mula-mula ia menuliskan soalnya di papan tulis. Tapi kemudian ia berhenti. Ia tak bisa mengerjakan soal-soal itu!

“Kenapa, Li?” tanya Bu Tuti, “Bukankah soal yang ibu berikan ini sama dengan PR minggu lalu? Waktu itu kamu dapat nilai 100! Jangan-jangan bukan kamu yang mengerjakannya ya?”

Mata Lili berkaca-kaca. Ia hampir menangis. Untung Nanda, teman sebangkunya, mengacungkan tangan, menawarkan diri mengerjakan soal tersebut.

Usai pelajaran, Bu Tuti kembali memperingatkan Lili.

“Ulangan umum tinggal seminggu lagi, ayo belajar yang benar, kalau nilaimu merah, nanti kamu tidak naik kelas!”

Lili pulang dengan lesu dan muram. Lala, kakak perempuan Lili yang sudah duduk di bangku SMP, heran melihat Lili.

“Ada apa, Li? Kok lemas begitu?” tanya Lala.
“Hiks, Lili takut enggak naik kelas, Kak…” Lili mengadu sambil menangis. Lalu ia menceritakan semuanya, termasuk tentang Liliput yang selalu mengerjakan PR nya.

“Lili menyesal, Kak! Lili enggak mau dibuatkan PR sama Liliput. Lili mau rajin bikin PR sendiri,” sesal Lili.

Lala tertawa tidak percaya. “Ah, kamu ini ada-ada saja, Li. Mana ada yang namanya liliput. Memang belakangan ini, Kakak perhatikan kamu kebanyakan tidur!  Bagaimana bisa pintar, kalau kamu malas begitu. Tapi, jangan khawatir, Kakak akan mengajari kamu matematika!”

Lili tersenyum, “Makasih, Kak. Untung ada Kakak! Lili janji enggak mau malas-malasan lagi, supaya Lili bisa naik kelas!” ujar Lili girang.

CERITA DONGENG BOBO
Oleh Antonia Dina Iguna
Dan diketik ulang oleh Muhammad Syukur Raharjo.

Temukan artikel menarik lainnya di sini
Ikuti akun instagram penulis
Kunjungi juga channel youtube penulis

Steve dan Gambang Kromong

Steve dan Gambang Kromong Oleh Nur Izzi Muntaha Hari ini penghuni kelasku bertambah lagi. Namanya Steve. Semua siswa di kelasku menyambut ge...