Tampilkan postingan dengan label cerpen ceria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen ceria. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Juni 2020

Steve dan Gambang Kromong

Steve dan Gambang Kromong
Oleh Nur Izzi Muntaha

Hari ini penghuni kelasku bertambah lagi. Namanya Steve. Semua siswa di kelasku menyambut gembira. Kecuali Doni.

"Hello, mister kompeni? Mau apa koe orang ke sini?" ujar Doni meniru logat Belanda. Steve memang keturunan Indo. Ibunya Belanda, ayahnya Betawi. Steve duduk di belakangku, dan di belakang Steve, ada Doni, si raja usil.

"Eh, enak aja elu manggil aye kompeni. Mak gue emang Belanda, tapi Babe gue Betawi asli. Kenalin name aye, Steve!" ujar Steve bercanda, dengan logat Betawi yang lancar. Steve memang lahir di Jakarta, tepatnya di Kemayoran.

"Eh, gilee, kompeni bisa juga nyerocos pake bahasa Betawi yah? Manteb." ujar Doni yang kini menggunakan logat Betawi.

"Hehehe, bisa aja kamu, Don!" Steve yang mempunyai nama lengkap Steve Abidin Putra, tertawa geli.

Sejak kepindahannya ke sekolahku, Steve dengan cepat memiliki banyak teman. Dia sangat baik kepada siapa saja, bahkan kepada Doni yang sering mengusilinya.

"Eh, kompeni, makin lama, kamu kok makin tengil aja!" ujar Doni usil suatu hari.

"Tengil? Tengil itu apa, Don?" tanya Steve bingung.

Doni tidak menjawab. Malah tiba-tiba tangan Doni memegang leher Steve. Suasana kelas menjadi gaduh. Aku mencoba melerai. Namun, dalam hitungan detik, keadaan sudah berubah. Kini Steve berhasil menangkap tangan Doni, dan memelintirnya ke belakang tubuh. Doni terdorong ke dinding dan tampak pucat menyerah.

"Elu mau ngajak gue bercanda? Gue bisa silat tau! Elu jangan iseng terus sama gue. Oke?" Steve lalu membebaskan tangan Doni, memberi ampun. Doni terdiam ketakutan. Padahal selama ini dia selalu jadi 'jawara' di sekolah.

Saat pelajaran kesenian dimulai, anak-anak masih membicarakan kehebatan Steve tadi. Pak Sholeh, guru kesenian, memberi pengumuman sebelum pelajaran kesenian diakhiri.

"Anak-anak, mulai pekan depan, sepulang sekolah, kalian wajib ikut pelajaran Gambang Kromong. Besok surat untuk orang tua akan diedarkan," ujar Pak Sholeh.

Steve dan Gambang Kromong
Oleh Nur Izzi Muntaha

Sepekan pun berlalu. Pelajaran Gambang Kromong dimulai. Steve terlihat sangat bersemangat, sementara Doni malah tidak senang.

"Kampungan ah! Aku malas ikut! Bilang saja sama Pak Sholeh, aku sakit. Jadi mesti pulang duluan." kata Doni.

"Don, mengapa begitu? Ayo ikutan sebentar saja. Aku tahu, kamu mau main gameboy, kan? Nanti, setelah pelajaran Gambang Kromong, kita main gameboy bareng di rumahku, yuk!" bujuk Steve.

Sayangnya, Doni tidak peduli. Dia melangkah pergi meninggalkan kelas.

Ternyata, kegiatan dari Pak Sholeh ini adalah untuk melestarikan kebudayaan Betawi yang sudah mulai dilupakan. Pak Sholeh berencana ingin mengirim kami untuk mengikuti lomba Gambang Kromong tingkat SD se-Jakarta.

Kami pun belajar dengan giat. Main Gambang Kromong ternyata sangat menyenangkan. Steve terlihat senang. Dicobanya semua peralatan, dari alat musik gesek yang bernama Kongahyam, Tehyan, dan Skong. Alat-alat musik ini ternyata adalah alat musik China yang dipadukan dengan alat musik pribumi seperti Gambang, Kromong, Kecrek, Kemor, Gendang kempul, dan Gong.

"Wah, asyik sekali, ya! Aku suka sekali memainkan Gemdang kempul ini. Bunyinya menyenangkan. Sayang, Doni tidak bisa ikut," ujar Steve yang terus mencoba satu-persatu alat musik Gambang Kromong.

Sebulan berlalu, kelas kami berlatih dengan giat namun penuh canda. Sayangnya, Doni tidak pernah mau diajak ikut. Akhirnya, kelas kami tampil dalam lomba antar SD se-Jakarta. Berkat latihan dan kerja keras serta doa, kami pun berhasil menjadi juara satu. Sejak saat itu, kelas kami sering bermain Gambang Kromongbkeliling Jakarta. Bahkan pernah tampil di depan Gubernur DKI Jakarta.

Kami sangat senang. Steve selalu manjadi sorotan ketika kami bermain Gambang Kromong.

Pada suatu hari, Steve membawa berita heboh di kelas.

"Teman-teman, ibuku sangat suka dengan Gambang Kromong. Ibu mengajak kita semua untuk mementaskannya di Belanda, dalam acara Pentas Budaya Indonesia," ujar Steve yang disambut teriakan heboh di kelas kami.

Sayang, Doni tidak bisa ikut. Dia tidak tercatat sebagai anggota Gambang Kromong. Apa boleh buat. Akhirnya kami tetap tampil di Belanda tanpa Doni. Ternyata mencintai kebudayaan daerah sangat menyenangkan. Kalau bukan kita yang melestarikan kebudayaan bangsa, siapa lagi?

Steve dan Gambang Kromong oleh Nur Izzi Muntaha
.
.
Temukan artikel menarik lainnya di sini
Ikuti akun instagram penulis
Kunjungi juga channel youtube penulis

Minggu, 19 April 2020

Lukisan Maya

Lukisan Maya


Maya adalah seorang anak perempuan yang manis. Ia tinggal di tengah hutan dengan kedua orang tuanya yang miskin. Maya suka sekali melukis. Sayang, kedua orang tuanya tidak mampu untuk membelikannya alat-alat melukis. Walaupun begitu, Maya tidak putus asa.

Maya terbiasa menggambar di mana saja. Kadang di belakang kertas bekas yang dibuang orang di jalan. Kadang ia mencorat-coret tanah di halaman belakang rumahnya dengan sebatang ranting. Ia juga akan gembira jika menemukan sepotong kapur di jalan.

Lukisan Maya sebenarnya bertebaran dimana-mana. Sayangnya, tidak ada penduduk desa yang menyadari bakat Maya. Kecuali para peri, bidadari, dan kurcaci yang sering berjalan-jalan di hutan pada malam hari.

"Uwaa... Maya itu pintar melukis, ya!" seru Peri Angin kagum. Ia menemukan sepotong gambar pemandangan di tanah. Di dekat pohon ceri yang sedang berbuah.

"Betul!" angguk bidadari bergaun merah. "Lihat, gambar bulan dan bintangnya indah sekali, persis aslinya!"

"Kita minta Maya, yuk, untuk melukis dekorasi di pesta akhir tahun nanti!" usul kurcaci bercelana biru. Semua yang mendengar langsung mengangguk setuju. Mereka membayangkan meriahnya pesta mereka nanti.

Setiap akhir tahun, para kurcaci, peri, dan bidadari memang selalu membuat pesta meriah untuk menyambut tahun baru. Di pesta itu, semua berdandan cantik dan mengenakan baju yang bagus. Suasananya sangat meriah. Ada tarian, musik, dan makanan yang lezat. Tetapi, sayangnya, selama ini tempat pesta mereka tidak didekorasi.

"Kalau Maya membuat lukisan untuk dekorasi pesta kita, pasti pesta kita jadi lengkap!" seru peri mawar bersemangat.

"Ide yang bagus!" puji Ratu Peri. "Tapi, apakah Maya bersedia?"

"Maya pasti mau membantu!" ujar Peri Matahari yakin. "Aku selalu mengamati Maya. Ia anak yang baik dan suka menolong orang!"

Ratu Peri kemudian mengutus Peri Mawar, Peri Angin, dan kurcaci bercelana biru untuk mendatangi Maya.

Alangkah kagetnya Maya ketika suatu malam ia mendapat tamu. Tiga makhluk mungil bertengger di sisi kasurnya yang tergeletak di lantai.

"Siapa... kalian?" tanya Maya agak takut.

"Jangan takut!" Peri Mawar tersenyum manis. "Kami datang untuk meminta bantuanmu. Kamu mau menolong kami?"

"Apa yang bisa kubantu?" tanya Maya ramah setelah rasa terkejutnya hilang. "Aku... aku tidak menyangka bisa bertemu peri dan kurcaci. Kukira kalian hanya ada di dalam dongeng bobo."

Peri Angin tersenyum dan meniup rambut Maya. Udara yang tadinya panas, langsung terasa lebih sejuk. Maya tersenyum gembira.

"Kami ini betul-betul ada," jelas kurcaci bercelana biru. "Kalau kamu mau, datanglah ke pesta akhir tahun. Aku akan mengenalkanmu kepada seluruh penghuni hutan yang belum pernah kamu lihat."

"Oh, ya?" Maya melonjak gembira. "Senang sekali, tapi... bagaimana caranya?"

"Pertama, kami meminta bantuanmu untuk mendekorasi pesta akhir tahun nanti. Kamu mau, kan?" pinta Peri Angin memelas. Tentu saja, Maya langsung mengangguk setuju.

Beberapa hari berikutnya, setiap ada waktu luang. Maya pasti melukis di tengah hutan. Di tempat pesta akhir tahun diadakan. Maya melukis di tanah dengan tongkat ajaib milik Ratu Peri. Lukisan Maya berkilauan indah. Maya juga melukis di pohon. Lukisan itu berpendar dalam gelap. Maya juga merangkai daun, ranting, dan bunga di sana-sini sebagai penghias pesta.

Akhirnya, hari yang dinanti-natikan pun tiba. Para penghuni hutan sangat takjub melihat lukisan Maya yang tersebar di sana-sini.

Suasana pesta jadi terasa jauh lebih meriah. Ratu Peri tersenyum gembira. Maya benar-benar anak yang baik.

"Terima kasih, Maya!" seru para penghuni hutan.

Maya mengangguk dan tersenyum senang. Ini adalah saat yang tak bisa dilupakannya. Ia gembira bisa berkenalan dengan para penghuni hutan. Kurcaci, peri, dan bidadari yang semula ia kita hanya ada di negeri dongeng.



"Sebagai tanda terima kasih, terimalah ini!" Ratu Peri memberikan Maya sekantung uang emas. Juga bros emas berbentuk rangkaian bunga, persis seperti yang Maya buat untuk mereka. "Ini upah untuk kebaikanmu yang suka menolong orang," ucap Ratu Peri berseri-seri.

Betapa senangnya Maya. Dengan uang emas dari Ratu Peri, Maya membeli alat-alat lukis. Ia lalu membuka toko lukisan. Banyak sekali orang yang membeli lukisan Maya. Kini, keluarga Maya bisa hidup lebih baik.
.


.
Lukisan Maya oleh Rina M. Suryakusuma
.
.
Temukan artikel menarik lainnya di sini
Ikuti akun instagram penulis
Kunjungi juga channel youtube penulis

Selasa, 14 April 2020

Patung Simpson

Patung Simpson

Simpson melihat kalendernya.
"Hari ini, Gipsy Moth berulang tahun. Aku akan membuat hadiah yang membuat ia teringat padaku."

Simpson segera bekerja. Ia membuat patung yang melihat dirinya. Gypsy gembira ketika melihat patung itu.

"Oh, Simpson, ini hadiah terhebat di dunia. Aku akan teringat padamu setiap kali melihatnya."

Simpson juga bangga melihat sahabatnya gembira. Malamnya, hujan turun sangat deras. Pagi harinya, semua jalan tertutup lumpur. Akan tetapi, Simpson tetap bermain ke rumah Gypsy dan mengajaknya bermain.

"Oh, maaf Simpson, aku tidak bisa bermain sekarang. Patung hadiahmu ini kotor terkena lumpur. Aku harus membersihkannya dahulu," jawab Gipsy.

Keesokan harinya, Simpson kembali datang ke rumah Gipsy. Lalu mengajaknya bermain lagi.

"Aduuh, maaf tidak bisa. Aku harus menanam bunga indah di sekeliling patungmu ini."

Simpson pulang dengan kecewa. Besoknya, ia kembali datang ke rumah Gipsy. Tapi, lagi-lagi Gipsy tidak bisa.

"Maaf lagi Simpson. Rumput di dekat jendelaku terlalu tinggi. Harus kupangkas dulu, sebab aku tidak bisa melihat patungmu dari dalam rumahku," jawab Gipsy panjang lebar.

Di sepanjang perjalanan pulang, Simpson merasa menyesal. Andai saja ia tidak membuatkan patung untuk Gipsy. Sekarang, Gipsy tampaknya lebih menyukai patung itu daripada Simpson yang sebenarnya.

"Aha!" Simpson tiba-tiba mendapat ide. Ia lalu membuat sebuah patung lagi. Kali ininia membuat patung Gipsy.

"Patung Gipsy ini yang akan menemaniku," kata Simpson.

Akan tetapi, patung Gipsy sama sekali tidak membuat Simpson senang. Tiba-tiba, Gipsy yang sebenarnya muncul sambil berkata, "Semua pekerjaanku sudah selesai. Sekarang, ayo kita bermain!"

Simpson masih sakit hati, "Tidak, aku sedang bermain dengan teman baruku," jawabnya.

"Oya...?? Apakah aku boleh ikut bermain? Karena aku sangat rindu dengan temanku yang bernama Simpson."

"Whatt...?? Kau rindu dengan Simpson yang sebenarnya?" tanya Simpson.

"Tentu saja! Aku rindu dengan satu-satunya Simpson yang ada di dunia ini," kata Gipsy. Oh, betapa senangnya hati Simpson. Akhirnya, Gipsy yang sebenarnya, dengan Simpson yang sebenarnya, mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya bersama-sama.

( Diterjemahkan oleh Wiendaru Gunadi, dari The Ups and Downs of Snail ).
.
.
Temukan artikel menarik lainnya di sini
Ikuti akun instagram penulis
Kunjungi juga channel youtube penulis

Selasa, 07 April 2020

Teka-Teki Tiga Patung


Teka-Teki Tiga Patung

Dahulu kala, hiduplah seorang raja di India. Suatu hari, datanglah seorang utusan dari negara tetangga. Utusan itu membawa sebuah kotak ukir yang terbuat dari perak.

"Tuanku Baginda, raja kami mengirim hadiah ini kepada Baginda, sebagai tansa persaudaraan," kata utusan itu dengan hormat.

Raja dari India ini menerima kotak tersebut dan membukanya. Di dalam kotak itu terdapat tiga patung yang berukir indah. Bentuknya sama persis.

"Bagus sekali patung-patung ini!" kata Raja kagum.

"Tuanku Baginda, menurut raja kami, meskipun patung ini tampak serupa, mereka memiliki perbedaan masing-masing. Raja kami meminta Tuanku untuk memilih salah satu dari ketiga patung itu. Dua patung lainnya tolong dikembalikan kepada hamba," kata utusan tersebut.

Semua orang yang berada di ruangan itu merasa heran dan ingin tahu. Raja mengamati ketiga patung tersebut satu-persatu. Sayangnya, ia sama sekali tidak menemukan perbedaan. Ukiran, bentuk, mata, hidung, telinga, kaki, dan tangan ketiga patung itu, semuanya sama. Tinggi dan beratnya pun sama.

"Pasti ada perbedaan yang tersembunyi yang tidak bisa kutemukan dalam waktu singkat," pikir Raja penasaran. Raja lalu berkata pada utusan itu, "Aku perlu waktu untuk memutuskan. Silahkan engkau beristirahat di pondok tamu. Aku akan memanggilmu besok."

Ketika utusan itu telah pergi, Raja bertanya mepada para menterinya, "Apakah kalian bisa melihat perbedaan di antara ketiga patung ini?"

Semua menteri mengamati ketiga patung tersebut dengan cermat. Namun, tak seorang pun dari mereka bisa menemukan perbedaannya. Raja sangat kecewa dan memandang keluar istana. Pada saat itulah, ia melihat puteranya, Pangeran Rajiv, yang terkenal cerdas. Raja segera memanggil puteranya tersebut.

"Rajiv, anakku, seorang teman dari kerajaan tetangga mengirimi Ayah tiga patung. Ayah harus memilih salah satu dan mengembalikan dua patung lainnya. Katanya, meski ketiga patung itu tampak mirip, mereka sebetulnya memiliki perbedaan. Carilah perbedaan tersebut, anakku!" kata Raja.

Pqngeran Rajiv segera membawa ketiga patung tersebut ke kamarnya. Ia mengamati dengan cermat dan melakukan beberapa percobaan untuk mencari perbedaannya. Namun, tak ada hasilnya. Fajar hampir menyingsing. Pangeran Rajiv hampir putus asa. Tiba-tiba, ia mendapat akal.

Pangeran Rajiv segera mengambil sebuah baskom besar berisi air. Ketiga patung itu, ia masukkan ke dalamnya satu-persatu. Pangeran tersenyum melihat gelembung yang keluar dari patung-patung itu. Pertanyaan telah terjawab.

Pagi harinya, semua petinggi kerajaan berkumpul di balairung istana. Mereka tak sabar menunggu jawaban dari sang pangeran.

"Anakku, apakah kau bisa menemukan perbedaan tersebut?" tanya Raja dengan tak sabar.

"Ya, Ayah, masing-masing patung ini membawa pesan," kata Pangeran Rajiv. Semua orang memandangnya takjub. "Ada orang yang mendengarkan dengan satu telinga, dan membiarkannya keluar lewat telinga lain. Lihatlah patung ini."

Pangeran Rajiv mengambil salah satu patung. Ia memasukkan sehelai kawat halus ke lubang telinga patung itu. Ujung kawat keluar dari lubang telinga yang lain.

"Si pemberi patung berharap, Ayah tidak memiliki teman yang sifatnya seperti patung ini."

Pangeran Rajiv lalu mengambil patung kedua dan memasukkan ujung kawat halus tadi ke lubang telinga patung. Ujung kawat keluar dari mulut patung kedua.

"Ayah, patung ini menggambarkan orang yang suka mendengarkan sesuatu, lalu menceritakannya kepada orang lain. Si pemberi patung ingin agar Ayah tidak memiliki teman seperti patung ini, karena ia tidak bisa dipercaya."

Semua orang yang hadir terdiam mendengarkan penjelasan itu. Kemudian Pangeran Rajiv mengambil patung ke tiga. Ia memasukkan ujung kawat halus tadi melalui lubang telinga patung, namun ujung kawat tidak bisa keluar dari lubang manapun.

Raja segera tahu, patung mana yang harus dipilihnya. Ia pun memanggil utusan dari negara tetangga.

"Aku telah memilih salah satu dari ketiga patung pemberian rajamu. Dua patung lainnya boleh kau bawa pulang. Sampaikan hormat dan terima kasihku kepada rajamu. Pemberian ini sangat berharga."

Utusan itu pun pulang ke negerinya.

Raja lalu menyerahkan patung yang dipilihnya itu kepada Pangeran Rajiv. "Anakku, Ayah sangat bangga pada kerja keras dan kecerdikanmu," pujinya.

Pangeran berlutut dan menerima patung tersebut dengan hormat. Semua orang yang berada si ruangan itu bertepuk tangan kagum pada kecerdikan sang pangeran.
( Cerita rakyat India, The Three Statues, diceritakan kembali oleh Laurensia. )

Minggu, 05 April 2020

Kecebong Mancari Ibunya


Kecebong Mencari Ibunya

Ada sekelompok kecebong sedang bermain di sungai kecil. Saat itu, datanglah seekor itik membawa anak-anaknya berenang di sungai. Melihat anak-anak itik bersama dengan Ibunya, kecebong itu teringat kepada Ibu mereka sendiri.

"Di mana, ya, Ibu kita?" para kecebong saling bertanya. Tapi, tak ada yang bisa memberikan jawaban. Mereka mendekati Ibu Itik.

"Bu Itik, Ibu kami dimana, ya? Tolong beritahu kami, bagaimana bentuk Ibu kami!" Tanya para kecebong pada Ibu Itik.

"Ibu kalian memiliki sepasang mata besar di kepala, mulutnya juga besar dan lebar," jawab Ibu Itik. "Pergilah kalian mencarinya."

"Terima kasih, Ibu Itik," kata para kecebong gembira.

Waktu itu, lewatlah seekor ikan besar di dekat mereka. Para kecebong melihat sepasang mata besar ikan itu. Mulutnya juga besar dan lebar.

"Ibu! Ibu!" teriak para kecebong kecil pada ikan besar.

"Saya bukan Ibu kalian," kata ikan besar sambil tersenyum. "Saya adalah Ibu dari ikan-ikan kecil. Ibu kalian memiliki empat kaki."

"Terima kasih, Ibu Ikan," kata kecebong sambil terus berenang.

Seekor kura-kura tampak sedang berenang ke arah mereka. Kecebong melihat, kura-kura memiliki empat kaki.

"Ibu! Ibu!" panggil kecebong pada kura-kura.

"Saya bukan Ibu kalian. Saya seekor kura-kura," kata kura-kura. "Ibu kalian memiliki kulit perut berwarna putih."

Kecebong melihat angsa putih yang sedang berenang di tempat itu. Perutnya berwarna putih. Mereka berpikir, angsa putih itu adalah Ibu mereka.

"Ibu! Ibu!" panggil kecebong pada angsa putih.

"Saya adalah Ibu dari anak-anak angsa. Ibu kalian mengenakan baju berwarna hijau. Kalau bernyanyi, suaranya kuak-kuak!" kata angsa putih.

Kecebong berenang lagi sampai ke tepi danau. Di sana, mereka melihat seekor katak di atas sehelai daun sedang bernyanyi kuak-kuak. Mereka segera berenang ke sana dan berkata,

"Apakah Anda melihat Ibu kami? Dia mempunyai sepasang mata besar, mulutnya juga lebar. Dia memiliki empat buah kaki. Perutnya berwarna putih. Dia memakai baju warna hijau. Dan kalau bernyanyi, suaranya kuak-kuak."

Mendengar pertanyaan itu, Katak tertawa terbahak-bahak.

"Anak-anak, Saya adalah Ibu kalian!" kata Katak.

Para kecebong merasa heran.
"Tapi, kenapa bentuk kami tidak sama seperti Ibu?"

Sambil tersenyum, Katak berkata, "Kalian masih kecil. Beberapa hari lagi, dari tubuh kalian akan muncul empat kaki. Lalu, ekor kalian akan mengecil dengan sendirinya. Kalian juga akan memakai baju warna hijau seperti Ibu. Dan bisa meloncat ke sana ke mari untuk menangkap serangga,"

Mendengar hal itu, para kecebong bersorak gembira. "Kita sudah menemukan Ibu kita!!!"
( Diceritakan kembali oleh Djony )
.
.
.
Temukan artikel menarik lainnya di sini
Ikuti akun instagram penulis
Kunjungi juga channel youtube penulis

Kamis, 02 April 2020

Mata Kail Keberuntungan


"Uuuhhh..., sebel! Kenapa sih, nggak ada satu pun ikan yang terjerat kailku?" gumam Satria kesal. Dengan kasar, ditariknya alat pancing itu dari dalam kolam.

Hari ini Satria ikut Ayah memancing di kolam pemancingan Tirta Mas. Baru kali ini dia ikut Ayah mancing.

Biasanya, di Hari Ahad begini, dia lebih suka bermain sepeda bersama teman-temannya. Namun sayang, hari itu teman-temannya sudah punya kesibukan masing-masing.

Adi akan membantu Ayahnya mengecat rumah. Joshua ikut orang tuanya berkunjung ke rumah neneknya yang sedang sakit. Sementara Budi yang sedang tidak enak badan, katanya. Tadinya sih, Budi mau saja ikut bersepeda dengan Satria. Namun Ibu Budi melarang keras.


Satria jadi kesal. Tadi dia sudah ingin bersepeda sendiri. Tetapi, apa enaknya bersepeda sendiri. Akhirnya, dia lalu menawarkan diri ikut Ayahnya memancing. Jadilah dia ada di sini sekarang.

"Uh... lagi-lagi sial!" gerutu Satria sambil menghentakkan kaki ke tanah.

Beberapa pemancing lain menoleh ke arahnya. Wajah mereka nampaknya kesal mendengar gerutu Satria.

"Sssttt, kalau lagi mancing itu, tidak boleh ribut," bisik Ayah di sampignya. "Kita pindah saja, yuk!" Ayah lalu mengajak pindah ke tempat yang lebih sepi. Ayah merasa tidak enak kepada pemancing yang lain.

"Ini, Ayah beri mata kail keberuntungan Ayah," kata Ayah sambil menyodorkan sebuah mata kail. Mata kail itu nampaknya sudah cukup tua, sudah karatan, dan penuh goresan.

"Coba kamu pakai. Kalau pakai mata kail ini, Ayah selalu dapat ikan banyak," bujuk Ayah.

Dengan senang hati, Satria memasang mata kail itu di ujung kailnya. Kemudian, dilemparkannya ke air. Huuup...

Satria lalu duduk dengan sabar menanti keajaiban mata kail tersebut. Angin semilir membuat matanya terasa berat.

Hampir saja kepalanya terkulai lemas ketika tiba-tiba dirasakannya suatu hentakan dari kail yang dipegangnya

"Haa! Ayah..... bantu, dong! Ikannya besar nih, Yah," soraknya gembira.


Akhirnya, dengan bantuan Ayah, Satria berhasil menangkap ikan yang lumayan besar. Dia tersenyum bangga. Dilepaskannya mulut ikan itu dari ujung mata kailnya. Ditaruhnya, ikan itu di ember yang sudah disiapkan sebelumnya.

Ia kemudian kembali memasang umpan di mata kail keberuntungannya itu. Dengan sekali sentak, dia melemparkan alat pancingnya ke dalam kolam. Kali ini, aku tidak boleh tertidur lagi, tekadnya.

Beberapa kali, Satria berhasil mendapatkan ikan kembali. Lumayan juga, pikirnya senang.

"Sudah siang, kita pulang, yuk!" Ajak Ayah. "Ibu pasti sudah menunggu dengan bumbu bakarnya yang sedap."

Satria senang membayangkan sebentar lagi dia akan menyantap ikan bakar hasil pancingannya sendiri.

"Ayah, lihat! Aku berhasil dapat 7 ekor. Mungkin ini karena aku memakai mata kail keberuntungan Ayah."

"Sebenarnya, yang hebat itu bukan mata kailnya, tapi kamu...." kata Ayah sambil tersenyum.

"Loh, kok bisa?" tanya Satria heran.

"Kunci keberhasilan memancing itu adalah kesabaran. Tadi, waktu pertama, kamu tidak sabar, bahkan sampai marah-marah. Ya... ikannya jadi lari semua, tidak mau mendekat. Tapi tadi, ketika kamu sudah lebih tenang, ikan pun mendekat dan memakan umpanmu."

"Oh, begitu ya, rahasianya. Kapan-kapan, aku ikut lagi ya, Yah! Aku janji, akan bersikap lebih sabar lagi," janji Satria.

Ia dan Ayahnya lalu tos kepalan tangan di udara sambil tertawa lepas.(Firmanawaty Sutan)

Minggu, 10 Maret 2019

Rahasia Tiga Kata



Madam Ivora adalah pemilik took roti Ivora yang sangat terkenal di San Fransisco. Dia memiliki tiga anak angkat. Roma si sulung, memiliki watak egois dan serakah. Verto, cerdik dan rendah hati. Serta si bungsu Agusto yang lugu dan penurut.

Suatu malam, keluarga Madam Ivora mendapat masalah. Toko roti mereka hangus terbakar. Mendengar berita itu, Madam Ivora mendapat serangan jantung dan akhirnya meninggal dunia.

Madam Ivora rupanya sudah membuat surat wasiat sejak jauh hari. Ia mewariskan hartanya untuk ketiga anak angkatnya. Namun, mereka harus mencari sendiri tempat penyimpanan harta itu, sesuai petunjuk yang diberikan oleh Madam Ivora.

Terdiri dari tiga kata yang sering ibu ucapkan ada kalian.
Kata pertama merupakan petunjuk tempat penyimpanan peti.
Kata kedua memiliki bentuk yang sama dengan peti.
Kata ketiga memiliki bentuk yang sama dengan benda pembuka kunci peti.

Ketiga anak itu bekerja sama memecahkan petunjuk tersebut.

“Aku ingat kata-kata yang sering ibu ucapkan pada kita,” kata Roma. “Kau sangat pintar. Harus rajin belajar, atau, ibu sayang kalian. Yang mana kira-kira?”

“Sangat membingungkan,” kata si bungsu Agusto.

“Coba lihat petunjuk ketiga. Kata kedua memiliki bentuk yang sama dengan peti,” ujar Verto tiba-tiba. “Apakah kalian masih ingat? Dulu Ayah pernah memberikan sebuah peti berbentuk hati pada Ibu.”

“Lalu apa hubungannya dengan petunjuk itu?” cela Roma sinis.

“Bentuk hati melambangkan cinta. Cinta itu love. Ibu sering mengucapkan aku sayang kamu, pada kita. Jadi ketiga kata itu pasti I Love U,” Verto menyimpulkan.

“Waah, kakak benar-benar cerdas,” puji Agusto.

Mereka bertiga lalu mencari peti berbentuk hati itu. Roma kesal setelah satu jam lelah mencari tanpa hasil. Verto membaca kembali petunjuk tadi.

“Kata pertama merupakan petunjuk penyimpanan peti. Berarti itu kata I,” guman Verto.

“Kasihan Ibu,” tiba-tiba Agusto teringat almarhumah ibunya, “Jika toko roti Ivora tidak terbakar, pasti serangan jantung ibu tidak kambuh.”

“Ya…, benar sekali!” Verto seperti menemukan ide.
“Kenapa, Kak?” Agusto heran.
“Kau benar sekali Agusto. I pasti singkatan dari kata IVORA. Mungkin Ibu menyimpan peti itu di toko roti kita!”
“Waah…, betul! Kalau begitu, ayo kita cari kesana!” Roma bersemangat.

Toko roti Ivora terlihat berantakan. Puing-puing bekas kebakaran masih berserakan. Mereka bersama-sama mencari peti itu, tak lama kemudian…..

“Hei, lihat! Aku menemukannya,” ujar Roma riang. Dia memegang peti sebesar buah kelapa.
“Horeee…” sambut Verto dan Agusto tak kalah riang.
Malamnya, mereka bertiga berkumpul di ruang keluarga.
“Bagaimana cara membuka peti ini?” tanya Agusto.
“Kita menyerah saja. Mungkin Ibu tidak berniat memberikan warisannya pada kita.” Roma mulai putus asa.

“Jangan menyerah. Kita harus bersabar.” Agusto memberi semangat.
“Lihatlah..!” seru Verto kemudian. “Lubang kunci ini berbentuk U. Sama dengan petunjuk keempat.
“Maksudmu…?” tanya Agusto lugu.
“Maksudnya, kita harus menemukan benda yang bentuknya sama dengan kunci ini.”

Maka mereka segera mencari benda-benda yang berbentuk U. Roma mencoba membuka dengan kunci berbentuk U, dari buatan ahli kunci. Verto mencoba membuka dengan kawat besi. Namun semuanya gagal. Kini giliran Agusto. Ia mencoba membuka dengan tusuk konde emas kesayangan ibunya. Tusuk konde itu dulunya adalah hadiah ulang tahun dari Agusto. Ternyata, kali ini Agusto berhasil.

Akan tetapi, sebelum peti itu terbuka seluruhnya, Roma buru-buru merebut peti itu.

“Hei, kalian harus ingat. Kemarin aku yang berhasil menemukan peti ini. Kalau tidak ada Aku, pasti peti ini belum ditemukan!” ujarnya sombong. “Jadi, Aku harus mendapat setengah dari harta ini. Setengahnya, harus kalian bagi dua.” Katanya licik.

Akan tetapi, betapa kecewanya Roma ketika melihat isi peti itu. Ternyata isinya hanya kertas-kertas resep masakan dan sebuah pulpen emas.

“Hanya ini warisan untuk kita..? Kalau begitu, pulpen emas ini untukku. Dan resep-resep tak berharga ini untuk kalian!” kata Roma, lalu pergi meninggalkan kedua adiknya.

Setahun kemudian.

Toko roti Verto terlihat ramai oleh pembeli. Rotinya tak kalah lezat dengan roti buatan Madam Ivora. Tentu saja, sebab Verto dan Agusto membuat roti sesuai dengan resep warisan ibunya. Ya, mereka berdua melanjutkan usaha milik ibunya, membuka toko roti. Dan kini, mereka menjadi kaya raya.

Sedangkan Roma, ia menghabiskan uang hasil menjual pulpen emas. Karena kalah judi, kini Roma tak punya apa-apa lagi. Akhirnya dia menyesal karena serakah dan menyepelekan warisan ibunya.


Asyia Destriana
Diketik ulang oleh Muhammad Syukur Raharjo
Cerita Keluarga Bobo
Cerpen Rahasia Tiga Kata


Kunjungi juga channel youtube penulis
Jangan lupa untuk like, comment, share, dan subscribe
Karena itu semua gratis

TERIMA KASIH

Sabtu, 16 Februari 2019

Chitra dan Bis Ceria



Kakek Boas memiliki sebuah bis yang dipakai untuk menghibur anak-anak. Terutama anak-anak di perkampungan. Di sisi kiri dan kanan bi situ, ada tulisan besar “BIS CERIA”. Di dalam bis itu ada peralatan menggambar, mewarnai, panggung boneka, juga bermacam-macam mainan.

Setiap hari Sabtu dan Minggu, Kakek Boas mengajak Chitra, cucunya, berkeliling dengan bis itu. Bis Ceria biasanya parkir di lapangan perkampungan. Kakek Boas dan Chitra lalu mengajak anak-anak di perkampungan itu untuk masuk ke bis mereka. Anak-anak bisa menggambar, atau bermain dengan berbagai manian yang tersedia.mereka juga bisa mendengar Chitra dan kakeknya mendongeng.

Chitra memang suka sekali mendongeng. Ia biasanya memakai boneka tangan di panggung boneka. Agar ceritanya lebih seru, Chitra bahkan belajar ventriloquism pada teman kakeknya. Ventriloquism adalah bahasa perut. Chitra belajar berbicara tanpa menggerakkan bibirnya.

Pada suatu hari Sabtu, Kakek Boas dan Chitra pergi ke perkampungan yang tidak jauh dari rumah Chitra. Mereka sudah sering ke perkampungan itu.

“Kakek…, kita sudah sampai. Tuh, lihat! Anak-anak sudah berkumpul!” kata Chitra sambil memainkan Wupi. Wupi adalah boneka tangan dari kain yang berbentuk kucing. Saat bicara, mulut Chitra tidak bergerak, sehingga Wupi yang bicara.

“Wah, Chitra! Ventriloquism kamu semakin hebat! Bibirmu sudah tidak bergerak sama sekali,” puji Kakek. Chitra sangat bahagia.

Kakek kini memarkir Bis Ceria di lapangan. Anak-anak kampung itu berkerumun mendekat. Begitu pintu bis dibuka, mereka langsung masuk dengan tertib.

“Eh, itu si kecil Tino. Kenapa dia tidak ikut ke sini ya?” Chitra menunjuk ke sebuah rumah di dekat lapangan itu. Ada seorang anak kecil duduk sedih di depan pintu rumah.

“Wah, wajahnya sedih sekali. Coba bujuk dia, Chitra!” kata Kakek Boas.

“Apa Tino masih gagap ya, kalau bicara?” piker Chitra ketika melangkah menghampiri Tino. Saat itu pintu rumah terbuka, dan Ibu Dira keluar.

“Selamat siang, Ibu Dira. Apa Tino boleh main di bis ceria hari ini?” tanya Chitra pada Ibu Dira, ibu Tino.

“Tentu saja boleh, Chitra. Tapi, kamu lihat saja sendiri, Tino sedang sedih. Sejak tiga hari lalu dia tidak mau bicara,” kata Ibu Dira. Ia lalu bercerita penyebab Tino jadi sedih dan mogok makan.

Tiga hari lalu, Tino diajak kakaknya menonton pertandingan sepak bola. Sambil nonton, Tino ngobrol seru dengan kakaknya. Beberapa anak besar di sekitar mereka, mendengar cara Tino berbicara. Mereka lalu menertawakan Tino dan ikut-ikutan bicara gagap meniru Tino.

Chitra sangat kasihan pada Tino. Ia membujuk Tino untuk bermain di Bis Ceria, namun tidak berhasil. Chitra tidak putus asa, Ia segera kembali ke Bis Ceria dan mengambil Wupi si boneka tangan. Lalu…..

Seekor boneka kucing muncul dari balik pintu rumah Tino. Tino yang sedang main mobil-mobilan sendirian, terkejut.

“Halo! Namaku Wupi. Kata Kak Chitra, kamu sedang sedih ya? Kalau aku bertemu anak-anak nakal yang mentertawakanmu, akan kugigit mereka semua!!” kata Wupi.

Tino mulai tertarik. Ia berdiri dan mengikuti boneka kucing itu.

“Tino, ini Wupi teman Kak Chitra. Dia ingin kenalan denganmu,” Chitra muncul dari balik pintu. Tino tetap tidak mau bicara. Namun, ia mengelus-elus kepala Wupi.

Tino lalu mengikuti Chitra yang mulai melangkah kearah Bis Ceria. Tino terus mengikuti Chitra dan akhirnya masuk ke dalam bis.

“Aku sudah bertemu Tino. Dia akan mengunjungi bisku,” kata Chitra dengan suara ventriloquism sambil menggerakkan Wupi. Anak-anak di dalam bis yang sedang menggambar, tertawa gembira melihat Wupi.

Tino kini duduk di kursi kecil di dalam bis. Chitra mengizinkan Tino meminjam Wupi. Tino memegangi boneka itu sambil menunggu boneka itu berbicara. Dinda, salah satu anak perempuan yang ada di dalam bi situ, mentertawakan Tino.

“Tino, Wupi  tidak bisa bicara betulan! Dia kan Cuma boneka! Hahaha…..”

Tino memandangi Wupi dengan sedih, untung Chitra segera mendapat akal. “Tino, Wupi memang tidak bisa bicara. Tapi dia ingin sekali bicara, karena ia ingin punya banyak teman. Itu sebabnya, tadi kak Chitra yang mengucapkan kata-kata yang ingin dikatakan Wupi.” Bujuk Chitra.

Tino lalu tampak akrab dengan Wupi. Namun tiba-tiba ia keluar dari bis, dan berlari pulang. Chitra dan kakeknya heran. Tetapi, beberapa saat kemudian Tino muncul lagi membawa celengan ayamnya. Chitra mengerti dan terharu. Tino rupanya ingin membeli Wupi.

“Tino, sebetulnya, kakak ingin menghadiahkan Wupi untukmu. Tapi…. Selama ini, kak Chitra yang menjadi suara Wupi. Kakak mengucapkan kata-kata yang ingin diucapkan Wupi. Apa kamu mau mengucapkan kata-kata yang ingin disampaikan Wupi? Kamu mau coba, kan, Tino?” bujuk Chitra.

Tino terdiam cukup lama. Lalu…..
“Aaa…aku…akk…akan  co…coba.”
“Wah, kamu pintar sekali, Tino. Nah, ini Wupi untukmu,” Chitra menyerahkan Wupi kepada Tino. Tino sangat gembira.

Hari sudah sore. Kakek Boas menjalankan Bis Ceria meninggalkan lapangan itu. Tino melambaikan tangan dengan Wupi di tangannya.

“Se…selamat…ja…jalan Bis Ce…ceria. Sa…sampai…..ber…temu la…lagi…”

* - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * - * -

Diceritakan kembali oleh Eva S.
CERPEN BOBO






Kunjungi juga akun youtube penulis.
Jangan lupa untuk like, share, comment, dan subscribe yaa....
Karena itu semua gratis...

Terima kasih

Steve dan Gambang Kromong

Steve dan Gambang Kromong Oleh Nur Izzi Muntaha Hari ini penghuni kelasku bertambah lagi. Namanya Steve. Semua siswa di kelasku menyambut ge...